Minggu, 13 Desember 2015



NZG BERKARYA DI TIMOR
OLEH : ELISABETH AGNES TNUNAY
 
Penyebaran injil awalnya dilakukan oleh orang-orang Asia dan Rasul Paulus adalah seorang Kristen yang mengabarkan injil ke Eropa. Tetapi pekabaran injil ini mengalami kemerosotan karena munculnya agama islam pada abad ke-10,dan kini orang Asia kembali diinjili oleh bangsa-bangsa Barat. Salah satu Negara yang di datangi oleh bangsa Barat adalah Indonesia. Mereka datang ke Indonesia dengan maksud untuk berdagang tetapi juga menyebarkan injil. Pada abad ke-16 bangsa portugis datang ke Indonesia dan menyebarkan kekristenan yakni kekristenan katolik dan diikuti oleh Belanda pada abad ke-17 dengan membawa kekristenan Protestan dan Penyebaran agama ini sampai hingga ke NTT.
Memberitakan injil ke seluruh dunia adalah tugas utama orang Kristen dan ini merupakan amanat agung dari Yesus Kristus yang tertera dalam Matius 28:18-20. Sebagai pengikut Kristus tidaklah mudah. Kita harus bisa memikul salib, menyangkal diri dan mengikuti Dia. Banyak tantangan dan hambatan yang akan di hadapi bahkan nyawa bisa menjadi korban demi menyatakan injil Yesus Kristus.
Hal yang sama yang di hadapi oleh para pekabar injil yang datang ke Timor. Walaupun banyak hambatan dan tantangan dan ada juga yang tidak bisa tetapi di antara ada mereka masih mau memberitakan injil di tempat yang bukan daerah asal mereka. Itu semua mereka lakukan agar umat Tuhan tidak terus hidup dalam kekafiran mereka yang kemudian membawa mereka ke neraka.
Laporan baca ini akan memaparkan bagaimana kekristenan itu masuk ke Timor dan bagaimana perjuangan dari para pekabar injil mempertahankan kekristenan itu hingga tidak punah sampai dengan sekarang ini.

 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1       LATAR BELAKANG
Pulau Timor dan pulau-pulau disekitarnya, dihuni oleh berbagai suku yang memakai banyak bahasa dan dialeg. Suku bahasa utama adalah suku Timor (atau Atoni berbahasa Timor/Dawan), Belu berbahasa Tetun, Rote berbahasa Rote,dan Sawu berhasa Sawu serta di wilayah Alor terdapat 5 bahasa dan banyak dialeg dan Kupang. Awal permulaan abad ke 20 wilayah yang dikuasai Belanda hanyalah Kupang dan daerah sekitarnya. Sampai tahun 1910 hanyalah daerah Kupang  yang keadaan di bidang gereja dan sekolahnya teratur. Di daerah pinggir kurang mendapat perhatian,dan diluar dari lingkungan itu usaha pendidikan dan pekabaran injil barulah dimulai sesudah tahun 1910 yakni bersamaan dengan kekuasaan belanda disanana.[1]  
1.2       TUJUAN
Dari materi yang akan kami bahas kami berharap bahwa :
1.   Pembaca dapat mengetahui awal mulanya perjuangan orang-orang dalam mengabarkan injil.
2.   Pembaca dapat mengetahui keadaan orang-orang Kristen di Timor yang di datangkan untuk mengabarkan injil.
1.3       MANFAAT
1.   Agar orang-orang Timor ataupun orang-orang Kristen lebih menghargai waktu Tuhan.
2.   Memiliki semangat perjuangan yang tinggi untuk mengabarkan injil seperti orang-orang yang di kirim ke Timor.





BAB II
ISI
1.1       ANALISA
Salah satu dari persekutuan PI di Indonesia dan di Timor adalah Nederlandse Zendeling Gennotschap (NZG) yang didirikan tanggal 19 desember 1799, tahun dimana VOC dibubarkan. Masa Nederlandse Zendeling Genootschap (1814-1860). NZG itu memainkan peranan yang sangat penting di pulau Timor selama lebih kurang 40 tahun.
Cara NZG berbeda dengan Oud Hollandse Zending. Dengan sadar NZG tidak mau melanjutkan propaganda gerakan atau ajaran tertentu, supaya dengan jalan itu mendirikan suatu tipe gereja yang tertentu. Yang ia mau lakukan ialah hanya mengajarkan prinsip-prinsip agama Kristen yang benar kepada orang-orang kafir.
Tenaga NZG yang pertama ialah Dws. R. Le Bruyn. Ia tiba di Kupang pada tahun 1819. Dikarenakan keadaan daerah yang buruk dan fisiknya lemah, maka sepuluh tahun kemudian ia meninggal dunia yakni 21 Mei 1929. Walaupun demikian hasil karyanya tetap cemerlang di Timor.
Yang dikerjakan oleh Ds. R. Le Bruyn sebagai berikut :
1.   Mengunjungi anggota jemaat di sekitar Kupang dan Babau, terletak 16 km dari Kupang.
2.   Menterjemahkan thalil ke dalam bahasa Melayu.
3.    Mengarang buku-buku yang berguna bagi PI.
4.    Mendirikan lembaga Alkitab Hindia Belanda.
5.    Mengumpulkan orang untuk memperbaiki gedung gereja Kupang yang sudah ditinggalkan sejak 1797.
6.    Membagi waktu untuk mengunjungi jemaat-jemaat di Rote dan Kisar, yang dilayani dari Kupang juga.
7.    Ia juga mengabarkan Injil dikalangan budak yang banyak memberi hasil dan kadang-kadang melalui budak-budak ini tuan-tuannya dapat ditarik kepada Kristus.
8.    Ia membuka lagi sekolah-sekolah yang sudah ditutup di Kupang dan Rote.
9.   Dengan bantuan Residen Hassart dapat dibangun sebuah panti asuhan.
Le Bruyn awalnya bekerja pada sebuah pabrik wol dan kemudian melamar pada NZG untuk menjadi pekabar injil. Ia kemudian mengikuti pendidikan persiapan sebagai seorang penginjil tahun 1817-1818 di Berkel. Le Bruyn seorang pekerja di pabrik wol setelah melamar untuk menjadi pendeta baru bisa mengikuti pendidikan, Sedangkan sekarang untuk menjadi pendeta sebelumnnya harus sekolah. Para pemuda yang melamar pada lembaga-lembaga PI karena ingin menjadi zendeling,biasanya berasal dari kalangan rakyat kecil. Diantara mereka sebelum melamar telah bekerja sebagai Tukang entah itu tukang kayu,tukang roti dan sebagainya. Jarang ada yang telah menerima pendidikan yang tingkatnya lebih tinggi dari SD. Dalam abad zendeling (abad ke-19 sampai awal abad ke-20), karya besar zending telah dilakukan oleh orang-orang kecil,bukan oleh para teolog, sarjana atau golongan terkemuka dalam masyarakat. Orang-orang ini bukan tidak berminat akan usaha zendeling tapi bagi mereka lebih pantas duduk dalam badan-badan pengurus,menulis surat-surat yang berisi petunjuk-petunjuk kepada para pekerja di lapangan. Para calon zendeling harus memenuhi beberapa syarat yaitu menyangkut kesehatannya yang diperiksa dengan teliti. Tentang umur, awalnya tidak ada peraturan,tetapi pada tahun 1846 NZG menetapkan batas umur yakni 16-23 tahun bagi orang yang hendak memasuki proses pendidikan di sekolah zendeling. Dalam proses PI para zendeling menggunakan metode berkunjung ke rumah-rumah dan mendoakanorang-orang yang sakit dan setelah sembuh barulah mereka masuk Kristen.[2]
Pendeta-pendeta selanjutnya yang dikirim dari Belanda meneruskan pekerjaan NZG. Ada yang berhasil, ada yang tidak, ada yang harus cepat pulang karena sakit, dan ada yang meninggal dunia. Guru-guru sekolah, ada yang merangkap sebagai guru jemaat dan dididik di Kwekschool di Ambon. Oleh karena itu, “pola Ambon” sangat mempengaruhi jemaat-jemaat dan kehidupan di Timor. Sama seperti di Ambon dan Minahasa, juga di Timor bahasa Melayu dianggap dan dipakai sebagai bahasa gereja dan bahasa sekolah resmi.
Tokoh-tokoh gereja pada akhir XIX ialah Donselaar dan J.J Niks. Donselaar bekerja sejak NZG berdiri, dan tetap bekerja di Timor sampai wafatnya pada tahun 1883. J.J Niks ditempatkan di Babau dan bekerja disana antara tahun 1874 dan tahun 1894.
Tahun 1902 di Rote dibagun sebuah sekolah guru Injil yang disebut STOVIL (School Tot Opeleiding Voor Inslands Leraar).
Pada tahun 1910 di Kupang ditempatkan seorang predikant Voorzitter yang memimpin gereja di seluruh keresidenan Timor, yaitu Ds. William Black. Ia mengusahakan PI di pulau Alor pada tahun 1911. Ds. Groothius berkedudukan di Babau. Ia berusaha menterjemahkan Injil ke dalam bahasa Timor dan berkhotbah dalam bahasa Timor. Pada tahun 1916 Injil baru mulai masuk ke pedalaman Timor. Di pulau Timor pada tahun 1922 tiba Ds. P. Middelkoop yang khususnya mengadakan penelitian mengenai bahasa dan adat-istiadat di Timor serta ia menerjemahkan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Timor serta buku-buku nyanyian gerejawi.
Pada tahun 1922 STOVIL dipindahkan ke Kupang dalam tahun 1931 Stovil ditutup oleh gereja sebab timbulnya sesuatu gerakan (yang ditanggapi oleh pimpinan sebagai nasionalisme). Kemudian dibuka lagi sebagai suatu sekolah Theologia di Soe tahun 1936 dan berlangsung sampai perang dunia kedua. Jumlah anggota Kristen di TTS pada tahun 1920 hanya 200 orang saja.[3].
Demikianlah jemaat di Kupang tidak mendapat pelayanan yang sungguh-sungguh. Untuk melayani jemaat diangkat oleh seorang Kupang bernama Paulus. Kemajuan terjadi pada abad ke-18, seiring dengan didirikannya benteng VOC di Kupang pada tahun 1701. VOC juga mendatangkan pendeta-pendeta ke Pulau Timor. Sejak itu berdirilah gereja dan sekolah-sekolah di Kupang. Pekabaran Injil pun mulai digiatkan ke beberapa pulau sekitar, seperti: Rote dan Sabu. Setelah VOC bubar, pekabaran Injil diambil-alih oleh lembaga Zending NZG (Nederlansche Zendeling Genootschap). Maka sejak 1817-1942 gereja di Timor menjadi bagian dari Indische Kerk. Pada masa inilah terjadi kemajuan pekabaran Injil yang pesat sampai ke pedalaman Timor dan sekitarnya. Alkitab dan nyanyian-nyanyian juga diterjemahkan para misionaris ke bahasa-bahasa setempat. Kemudian, ketika para Zendeling ditawan oleh Jepang. kepemimpinan diambil-alih putra-putra Kupang dengan membentuk Badan Gereja Timor Selatan[4],dimana angota-anggotanya sebagai berikut :
Ketua                    : N.Nisnoni (Raja Kupang)
Wakil Ketua          : Pdt.Arnoldus dari Kota Kupang
Sekertaris            : Pdt.E.Tokoh
Bendahara           : Habel Oematan
Anggota                 : 1. Penatua Kafin dari Oeba
                                2. Penatua Raja dari Nunhila
                                3. Pdt. J.Amtiran dari Oenesu
             4. Pdt.Huan Ndao dari Kuanino
Anggota gereja disentralisir dan para pelayan digaji dengan standar :
Pendeta                : Rp.50,-/Bulan
Guru Jemaat        : Rp.25,-/Bulan
Utusan Injil          : Rp.15,-/Bulan
          Tugas lain dari badan ini ialah mengangkat pendeta,guru jemaat dan utusan injil,mengedarkan putusan dogma yang dicetak di atas kertas berwarna,dan mengawasi sekolah-sekolah (oleh J.Nait). pada zaman ini juga terdapat pendeta-pendeta yang menjadi korban yaitu : Pdt. Dikuanan dan Pdt.Riu di Alor.ada juga pendeta yang dituduh tetapi lolos yakni Pdt.Adoe dari Rote dan Bapak Guru Tube dari Tarus.[5]
Pekabaran injil di Timor mengalami banyak hambatan di antaranya adalah kurangnya pendeta-pendeta,oleh karena itu pendeta-pendeta yang ditempatkan di Timor bukanlah pendeta Pribumi melainkan pendeta-pendeta yang di datangkan oleh NZG.tetapi pendeta-pendeta yang di kirim ke Timor bisa dikatakan banyak yang tidak betah oleh karena banyak faktor antara lain karena sakit,iklim yang tidak mendukung,tak sanggup dll. Selain itu salah satu kendala waktu itu ialah tidak ada pendeta pribumi karena bagi orang-orang pribumi untuk bersekolah pendeta mebutuhkan biaya yang sangat besar atau mahal.
Setiap pendeta yang dikirim oleh NZG ke Kupang selalu di kirim ke Rote Ndao, Ini disebabkan oleh dua hal yaitu :
1.   Kekristenan yang pertama memasuki Rote adalah adalah kekristenan katolik yang dibawah misionaris katolik seperti dominikan dan yesuit.sekitar tahun 1620 dan 1630 Orang-orang dominikan dan yesuit berusaha memberitakan injil ke Rote Ndao. Pada tahun 1629 Chystvau Pranger tiba di Rote dan berhasil menyebarkan iman katoloik di sana
2.   Dengan berkembangnya kekristenan di Rote Ndao dan adanya hubungan yang kurang harmonis POS dengan pemerintah VOC di Kupang.
2.2       REFLEKSI
Daerah pedesaan yang dipenuhi oleh orang-orang kafir,sakit penyakit bukanlah merupakan suatu halangan bagi seorang yang percaya kepada Kristus untuk menyampaikan injil-Nya. Itulah salib yang harus dipikul. Tugas memberitakan injil bukanlah tugas dari seorang pendeta tetapi semua orang percaya.
Pada tahun 1828 Bruyn sakit dan juga Heijmering mengalami sakit tetapi walaupun sakit mereka tetap mengerjakan pelayanannya,ini berbeda dengan sekarang. Walaupun hanya sakit ringan tetapi kadang meninggalkan pelayanan. Banyak orang yang meninggalkan pelayanan karena tak sanggup. Ada juga yang karena ego bisa meninggalkan pelayanannya. Ada pendeta yang ketika ditempakkan di daerah-daerah pelosok yang kadang fasilitas yang ada tidak menunjang kebutuhannya maka memutuskan untuk kembali dan tidak mau untuk menjalankan tugas pelayanannya. Ketika Allah memanggil kita untuk melakukan segala sesuatu,kita mungkin awalnya tidak mengerti atau merasa antusias. Tetapi disitu kita harus penuh kerinduan terhadap-Nya,ini berarti kita harus melakukan segalanya bagi Tuhan. Ketika kita memutuskan untuk melayani orang lain maka kita sudah menabur benih-benih kebaikan dan kita akan mendapati bahwa kita telah mengubah kehidupan orang lain dan terutama diri kita sendiri.
Pada saat Bruyn melayani di Timor umurnya sangat muda,ketika meninggal ia berumur 29 tahun. Ia mengambil keputusan untuk meyebarkan injil pada usia 19 tahun, pada tahun 1818 ia mengikuti pendidikan dan mulai bekerja pada 01 Mei 1819. Ia menjadi teladan bagi banyak orang dan di kenal dengan ketidakputusasaannya dalam mengabarkan injil,mampu melewati berbagai tantangan dan teguh dalam pelayanan sampai akhir hayatnya. Ia mencintai apa yang sebenarnya bukan bagian dari padanya. dalam sejarah. Melihat dari tokoh ini, muda berarti tak bisa, seperti dalam firman Tuhan : “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya,dalam perkataanmu,dalam tingkah lakumu,dalam kasihmu,dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4:12). Untuk melayani Tuhan umur bukanlah syarat yang terutama yang terpenting adalah kemauan tanpa paksaan dari pihak mana pun.



BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
          Dari materi diatas maka kami dapat menyimpulkan :
1.   Dalam pekerjaan injil di Timor, terdapat banyak hambatan yang membuat para Pendeta tidak mau mengabarkan injil tetapi ada beberapa Pendeta yang dengan tekat dan semangat maka bertahan sampai akhir hayat dan menghasilkan kemajuan.
2.   Tantangan atau hambatan yang dimaksud adalah sakit penyakit, Timor merupakan daerah yang terpencil, iklim, kebutuhan hidup dan juga paling utama adalah kemauan untuk melayani.
3.   Selama pekabaran injil di Timor ada sekolah-sekolah dan gereja yang dibangun.
3.2 USUL/SARAN
1.   Kami menghimbau kepada gereja, khususnya gereja-gereja GMIT agar dalam katekisasi diadakan ajaran mengenai sejarah GMIT kepada warga jemaat agar mereka dapat mengetahui bagaimana sejarahnya dan betapa kerasnya perjuangan para zendeling dalam menyebarkan injil.
2.   Kepada gereja juga kami menghimbau agar diadakan satu pelatihan ketrampilan dan juga pengajaran yang ketat dan terkontrol agar dapat membangun  mereka untuk melayani supaya jangan hanya orang-orang yang sama yang terus melayani dalam gereja sebagai penatua/diaken.
3.   Ketika kita berpegang teguh pada komitmen maka Tuhan selalu menyertai kita. Oleh karena itu ketika di tugaskan untuk melakukan apa saja maka setialah dan lakukan itu bukan untuk menyenangkan manusia tetapi untuk kemuliaan nama Tuhan.





DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku :
1.   Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)
2.   Dr.Djara Wellem, Frederiek. 2011. Sejarah Gereja Masehi Injili di Timor. Permata Aksara : Jakarta
3.   End, Dr. Th. van den. 2001. Ragi Carita 2. PT BPK Gunung Mulia: Jakarta.
4.   Hawu Haba,Yuda.D. Bahan Ajar Sejarah Gereja di Indonesia.
5.   Buku Catatan Katekisasi Elisabeth Agnes Tnunay  Mengenai  Sejarah GMIT”

Sumber Internet :


[1] End, Dr. Th. van den. 2001. Ragi Carita 2. PT BPK Gunung Mulia, Jakarta. Halaman 104 - 105
[2] End, Dr. Th. van den. 2001. Ragi Carita 2. PT BPK Gunung Mulia, Jakarta. Halaman 27
[3] Buku Catatan Katekisasi Elisabeth Agnes Tnunay  Mengenai  Sejarah GMIT”
[5] Buku Catatan Katekisasi  Mengenai  Sejarah GMIT”