NZG BERKARYA DI TIMOR
OLEH : ELISABETH AGNES TNUNAY
Penyebaran injil awalnya dilakukan oleh
orang-orang Asia dan Rasul Paulus adalah seorang Kristen yang mengabarkan injil
ke Eropa. Tetapi pekabaran injil ini mengalami kemerosotan karena munculnya
agama islam pada abad ke-10,dan kini orang Asia kembali diinjili oleh
bangsa-bangsa Barat. Salah satu Negara yang di datangi oleh bangsa Barat adalah
Indonesia. Mereka datang ke Indonesia dengan maksud untuk berdagang tetapi juga
menyebarkan injil. Pada abad ke-16 bangsa portugis datang ke Indonesia dan
menyebarkan kekristenan yakni kekristenan katolik dan diikuti oleh Belanda pada
abad ke-17 dengan membawa kekristenan Protestan dan Penyebaran agama ini sampai
hingga ke NTT.
Memberitakan injil ke seluruh dunia adalah
tugas utama orang Kristen dan ini merupakan amanat agung dari Yesus Kristus
yang tertera dalam Matius 28:18-20. Sebagai pengikut Kristus tidaklah mudah.
Kita harus bisa memikul salib, menyangkal diri dan mengikuti Dia. Banyak
tantangan dan hambatan yang akan di hadapi bahkan nyawa bisa menjadi korban
demi menyatakan injil Yesus Kristus.
Hal yang sama yang di hadapi oleh para
pekabar injil yang datang ke Timor. Walaupun banyak hambatan dan tantangan dan
ada juga yang tidak bisa tetapi di antara ada mereka masih mau memberitakan
injil di tempat yang bukan daerah asal mereka. Itu semua mereka lakukan agar
umat Tuhan tidak terus hidup dalam kekafiran mereka yang kemudian membawa
mereka ke neraka.
Laporan baca ini akan memaparkan bagaimana kekristenan
itu masuk ke Timor dan bagaimana perjuangan dari para pekabar injil
mempertahankan kekristenan itu hingga tidak punah sampai dengan sekarang ini.
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Pulau Timor dan pulau-pulau disekitarnya, dihuni
oleh berbagai suku yang memakai banyak bahasa dan dialeg. Suku bahasa utama
adalah suku Timor (atau Atoni berbahasa Timor/Dawan), Belu berbahasa Tetun,
Rote berbahasa Rote,dan Sawu berhasa Sawu serta di wilayah Alor terdapat 5
bahasa dan banyak dialeg dan Kupang. Awal permulaan abad ke 20 wilayah yang
dikuasai Belanda hanyalah Kupang dan daerah sekitarnya. Sampai tahun 1910
hanyalah daerah Kupang yang keadaan di
bidang gereja dan sekolahnya teratur. Di daerah pinggir kurang mendapat
perhatian,dan diluar dari lingkungan itu usaha pendidikan dan pekabaran injil
barulah dimulai sesudah tahun 1910 yakni bersamaan dengan kekuasaan belanda
disanana.[1]
1.2 TUJUAN
Dari materi yang akan kami bahas kami berharap bahwa :
1.
Pembaca
dapat mengetahui awal mulanya perjuangan orang-orang dalam mengabarkan injil.
2.
Pembaca
dapat mengetahui keadaan orang-orang Kristen di Timor yang di datangkan untuk
mengabarkan injil.
1.3 MANFAAT
1. Agar orang-orang Timor ataupun orang-orang
Kristen lebih menghargai waktu Tuhan.
2. Memiliki semangat perjuangan yang tinggi
untuk mengabarkan injil seperti orang-orang yang di kirim ke Timor.
BAB
II
ISI
1.1
ANALISA
Salah
satu dari persekutuan PI di Indonesia dan di Timor adalah Nederlandse Zendeling
Gennotschap (NZG) yang didirikan tanggal 19 desember 1799, tahun dimana VOC
dibubarkan. Masa Nederlandse Zendeling Genootschap (1814-1860). NZG itu
memainkan peranan yang sangat penting di pulau Timor selama lebih kurang 40
tahun.
Cara NZG berbeda dengan Oud Hollandse Zending. Dengan sadar NZG tidak mau melanjutkan propaganda gerakan atau ajaran tertentu, supaya dengan jalan itu mendirikan suatu tipe gereja yang tertentu. Yang ia mau lakukan ialah hanya mengajarkan prinsip-prinsip agama Kristen yang benar kepada orang-orang kafir.
Tenaga NZG yang pertama ialah Dws. R. Le Bruyn. Ia tiba di Kupang pada tahun 1819. Dikarenakan keadaan daerah yang buruk dan fisiknya lemah, maka sepuluh tahun kemudian ia meninggal dunia yakni 21 Mei 1929. Walaupun demikian hasil karyanya tetap cemerlang di Timor.
Cara NZG berbeda dengan Oud Hollandse Zending. Dengan sadar NZG tidak mau melanjutkan propaganda gerakan atau ajaran tertentu, supaya dengan jalan itu mendirikan suatu tipe gereja yang tertentu. Yang ia mau lakukan ialah hanya mengajarkan prinsip-prinsip agama Kristen yang benar kepada orang-orang kafir.
Tenaga NZG yang pertama ialah Dws. R. Le Bruyn. Ia tiba di Kupang pada tahun 1819. Dikarenakan keadaan daerah yang buruk dan fisiknya lemah, maka sepuluh tahun kemudian ia meninggal dunia yakni 21 Mei 1929. Walaupun demikian hasil karyanya tetap cemerlang di Timor.
Yang dikerjakan oleh Ds. R.
Le Bruyn sebagai berikut :
1. Mengunjungi
anggota jemaat di sekitar Kupang dan Babau, terletak 16 km dari Kupang.
2. Menterjemahkan
thalil ke dalam bahasa Melayu.
3.
Mengarang buku-buku yang berguna bagi PI.
4.
Mendirikan lembaga Alkitab Hindia Belanda.
5.
Mengumpulkan orang untuk memperbaiki gedung
gereja Kupang yang sudah ditinggalkan sejak 1797.
6.
Membagi waktu untuk mengunjungi jemaat-jemaat
di Rote dan Kisar, yang dilayani dari Kupang juga.
7.
Ia
juga mengabarkan Injil dikalangan budak yang banyak memberi hasil dan
kadang-kadang melalui budak-budak ini tuan-tuannya dapat ditarik kepada
Kristus.
8.
Ia
membuka lagi sekolah-sekolah yang sudah ditutup di Kupang dan Rote.
9.
Dengan bantuan Residen Hassart dapat dibangun
sebuah panti asuhan.
Le Bruyn
awalnya bekerja pada sebuah pabrik wol dan kemudian melamar pada NZG untuk
menjadi pekabar injil. Ia kemudian mengikuti pendidikan persiapan sebagai
seorang penginjil tahun 1817-1818 di Berkel. Le Bruyn seorang pekerja di pabrik
wol setelah melamar untuk menjadi pendeta baru bisa mengikuti pendidikan, Sedangkan
sekarang untuk menjadi pendeta sebelumnnya harus sekolah. Para pemuda yang
melamar pada lembaga-lembaga PI karena ingin menjadi zendeling,biasanya berasal
dari kalangan rakyat kecil. Diantara mereka sebelum melamar telah bekerja
sebagai Tukang entah itu tukang kayu,tukang roti dan sebagainya. Jarang ada
yang telah menerima pendidikan yang tingkatnya lebih tinggi dari SD. Dalam abad
zendeling (abad ke-19 sampai awal abad ke-20), karya besar zending telah
dilakukan oleh orang-orang kecil,bukan oleh para teolog, sarjana atau golongan
terkemuka dalam masyarakat. Orang-orang ini bukan tidak berminat akan usaha zendeling
tapi bagi mereka lebih pantas duduk dalam badan-badan pengurus,menulis
surat-surat yang berisi petunjuk-petunjuk kepada para pekerja di lapangan. Para
calon zendeling harus memenuhi beberapa syarat yaitu menyangkut kesehatannya
yang diperiksa dengan teliti. Tentang umur, awalnya tidak ada peraturan,tetapi
pada tahun 1846 NZG menetapkan batas umur yakni 16-23 tahun bagi orang yang
hendak memasuki proses pendidikan di sekolah zendeling. Dalam proses PI para
zendeling menggunakan metode
berkunjung ke rumah-rumah dan mendoakanorang-orang yang sakit dan setelah
sembuh barulah mereka masuk Kristen.[2]
Pendeta-pendeta
selanjutnya yang dikirim dari Belanda meneruskan pekerjaan NZG. Ada yang
berhasil, ada yang tidak, ada yang harus cepat pulang karena sakit, dan ada
yang meninggal dunia. Guru-guru sekolah, ada yang merangkap sebagai guru jemaat
dan dididik di Kwekschool di Ambon. Oleh karena itu, “pola Ambon” sangat
mempengaruhi jemaat-jemaat dan kehidupan di Timor. Sama seperti di Ambon dan
Minahasa, juga di Timor bahasa Melayu dianggap dan dipakai sebagai bahasa gereja
dan bahasa sekolah resmi.
Tokoh-tokoh gereja pada akhir XIX ialah Donselaar dan J.J Niks. Donselaar bekerja sejak NZG berdiri, dan tetap bekerja di Timor sampai wafatnya pada tahun 1883. J.J Niks ditempatkan di Babau dan bekerja disana antara tahun 1874 dan tahun 1894.
Tokoh-tokoh gereja pada akhir XIX ialah Donselaar dan J.J Niks. Donselaar bekerja sejak NZG berdiri, dan tetap bekerja di Timor sampai wafatnya pada tahun 1883. J.J Niks ditempatkan di Babau dan bekerja disana antara tahun 1874 dan tahun 1894.
Tahun
1902 di Rote dibagun sebuah sekolah guru Injil yang disebut STOVIL (School Tot
Opeleiding Voor Inslands Leraar).
Pada tahun 1910 di Kupang ditempatkan seorang predikant Voorzitter yang memimpin gereja di seluruh keresidenan Timor, yaitu Ds. William Black. Ia mengusahakan PI di pulau Alor pada tahun 1911. Ds. Groothius berkedudukan di Babau. Ia berusaha menterjemahkan Injil ke dalam bahasa Timor dan berkhotbah dalam bahasa Timor. Pada tahun 1916 Injil baru mulai masuk ke pedalaman Timor. Di pulau Timor pada tahun 1922 tiba Ds. P. Middelkoop yang khususnya mengadakan penelitian mengenai bahasa dan adat-istiadat di Timor serta ia menerjemahkan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Timor serta buku-buku nyanyian gerejawi.
Pada tahun 1910 di Kupang ditempatkan seorang predikant Voorzitter yang memimpin gereja di seluruh keresidenan Timor, yaitu Ds. William Black. Ia mengusahakan PI di pulau Alor pada tahun 1911. Ds. Groothius berkedudukan di Babau. Ia berusaha menterjemahkan Injil ke dalam bahasa Timor dan berkhotbah dalam bahasa Timor. Pada tahun 1916 Injil baru mulai masuk ke pedalaman Timor. Di pulau Timor pada tahun 1922 tiba Ds. P. Middelkoop yang khususnya mengadakan penelitian mengenai bahasa dan adat-istiadat di Timor serta ia menerjemahkan Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama ke dalam bahasa Timor serta buku-buku nyanyian gerejawi.
Pada
tahun 1922 STOVIL dipindahkan ke Kupang dalam tahun 1931 Stovil ditutup oleh
gereja sebab timbulnya sesuatu gerakan (yang ditanggapi oleh pimpinan sebagai
nasionalisme). Kemudian dibuka lagi sebagai suatu sekolah Theologia di Soe
tahun 1936 dan berlangsung sampai perang dunia kedua. Jumlah anggota Kristen di
TTS pada tahun 1920 hanya 200 orang saja.[3].
Demikianlah
jemaat di Kupang tidak mendapat pelayanan yang sungguh-sungguh. Untuk melayani
jemaat diangkat oleh seorang Kupang bernama Paulus. Kemajuan terjadi pada abad
ke-18, seiring dengan didirikannya benteng VOC di Kupang pada tahun 1701. VOC
juga mendatangkan pendeta-pendeta ke Pulau Timor. Sejak itu berdirilah gereja
dan sekolah-sekolah di Kupang. Pekabaran Injil pun mulai digiatkan ke beberapa
pulau sekitar, seperti: Rote dan Sabu. Setelah VOC bubar, pekabaran Injil
diambil-alih oleh lembaga Zending NZG (Nederlansche Zendeling Genootschap).
Maka sejak 1817-1942 gereja di Timor menjadi bagian dari Indische Kerk. Pada
masa inilah terjadi kemajuan pekabaran Injil yang pesat sampai ke pedalaman
Timor dan sekitarnya. Alkitab dan nyanyian-nyanyian juga diterjemahkan para
misionaris ke bahasa-bahasa setempat. Kemudian, ketika para Zendeling ditawan
oleh Jepang. kepemimpinan diambil-alih putra-putra Kupang dengan membentuk
Badan Gereja Timor Selatan[4],dimana
angota-anggotanya sebagai berikut :
Ketua :
N.Nisnoni (Raja Kupang)
Wakil
Ketua : Pdt.Arnoldus dari Kota
Kupang
Sekertaris :
Pdt.E.Tokoh
Bendahara
: Habel Oematan
Anggota
: 1. Penatua Kafin dari Oeba
2. Penatua Raja dari Nunhila
3. Pdt. J.Amtiran dari Oenesu
4.
Pdt.Huan Ndao dari Kuanino
Anggota
gereja disentralisir dan para pelayan digaji dengan standar :
Pendeta
: Rp.50,-/Bulan
Guru
Jemaat : Rp.25,-/Bulan
Utusan
Injil : Rp.15,-/Bulan
Tugas
lain dari badan ini ialah mengangkat pendeta,guru jemaat dan utusan
injil,mengedarkan putusan dogma yang dicetak di atas kertas berwarna,dan
mengawasi sekolah-sekolah (oleh J.Nait). pada zaman ini juga terdapat
pendeta-pendeta yang menjadi korban yaitu : Pdt. Dikuanan dan Pdt.Riu di
Alor.ada juga pendeta yang dituduh tetapi lolos yakni Pdt.Adoe dari Rote dan
Bapak Guru Tube dari Tarus.[5]
Pekabaran
injil di Timor mengalami banyak hambatan di antaranya adalah kurangnya
pendeta-pendeta,oleh karena itu pendeta-pendeta yang ditempatkan di Timor
bukanlah pendeta Pribumi melainkan pendeta-pendeta yang di datangkan oleh
NZG.tetapi pendeta-pendeta yang di kirim ke Timor bisa dikatakan banyak yang
tidak betah oleh karena banyak faktor antara lain karena sakit,iklim yang tidak
mendukung,tak sanggup dll. Selain itu salah satu kendala waktu itu ialah tidak
ada pendeta pribumi karena bagi orang-orang pribumi untuk bersekolah pendeta
mebutuhkan biaya yang sangat besar atau mahal.
Setiap
pendeta yang dikirim oleh NZG ke Kupang selalu di kirim ke Rote Ndao, Ini
disebabkan oleh dua hal yaitu :
1. Kekristenan
yang pertama memasuki Rote adalah adalah kekristenan katolik yang dibawah
misionaris katolik seperti dominikan dan yesuit.sekitar tahun 1620 dan 1630
Orang-orang dominikan dan yesuit berusaha memberitakan injil ke Rote Ndao. Pada
tahun 1629 Chystvau Pranger tiba di Rote dan berhasil menyebarkan iman katoloik
di sana
2. Dengan
berkembangnya kekristenan di Rote Ndao dan adanya hubungan yang kurang harmonis
POS dengan pemerintah VOC di Kupang.
2.2
REFLEKSI
Daerah pedesaan yang dipenuhi oleh
orang-orang kafir,sakit penyakit bukanlah merupakan suatu halangan bagi seorang
yang percaya kepada Kristus untuk menyampaikan injil-Nya. Itulah salib yang
harus dipikul. Tugas memberitakan injil bukanlah tugas dari seorang pendeta
tetapi semua orang percaya.
Pada tahun 1828 Bruyn sakit dan juga
Heijmering mengalami sakit tetapi walaupun sakit mereka tetap mengerjakan
pelayanannya,ini berbeda dengan sekarang. Walaupun hanya sakit ringan tetapi
kadang meninggalkan pelayanan. Banyak orang yang meninggalkan pelayanan karena
tak sanggup. Ada juga yang karena ego bisa meninggalkan pelayanannya. Ada
pendeta yang ketika ditempakkan di daerah-daerah pelosok yang kadang fasilitas
yang ada tidak menunjang kebutuhannya maka memutuskan untuk kembali dan tidak
mau untuk menjalankan tugas pelayanannya. Ketika Allah memanggil kita untuk
melakukan segala sesuatu,kita mungkin awalnya tidak mengerti atau merasa antusias.
Tetapi disitu kita harus penuh kerinduan terhadap-Nya,ini berarti kita harus
melakukan segalanya bagi Tuhan. Ketika kita memutuskan untuk melayani orang
lain maka kita sudah menabur benih-benih kebaikan dan kita akan mendapati bahwa
kita telah mengubah kehidupan orang lain dan terutama diri kita sendiri.
Pada saat Bruyn melayani di Timor umurnya
sangat muda,ketika meninggal ia berumur 29 tahun. Ia mengambil keputusan untuk
meyebarkan injil pada usia 19 tahun, pada tahun 1818 ia mengikuti pendidikan
dan mulai bekerja pada 01 Mei 1819. Ia menjadi teladan bagi banyak orang dan di
kenal dengan ketidakputusasaannya dalam mengabarkan injil,mampu melewati
berbagai tantangan dan teguh dalam pelayanan sampai akhir hayatnya. Ia mencintai
apa yang sebenarnya bukan bagian dari padanya. dalam sejarah. Melihat dari
tokoh ini, muda berarti tak bisa, seperti dalam firman Tuhan : “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah
karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya,dalam perkataanmu,dalam
tingkah lakumu,dalam kasihmu,dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1
Timotius 4:12). Untuk melayani Tuhan umur bukanlah syarat yang terutama yang
terpenting adalah kemauan tanpa paksaan dari pihak mana pun.
BAB
III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Dari materi diatas maka kami dapat menyimpulkan :
1. Dalam pekerjaan injil di Timor, terdapat
banyak hambatan yang membuat para Pendeta tidak mau mengabarkan injil tetapi
ada beberapa Pendeta yang dengan tekat dan semangat maka bertahan sampai akhir
hayat dan menghasilkan kemajuan.
2. Tantangan atau hambatan yang dimaksud adalah
sakit penyakit, Timor merupakan daerah yang terpencil, iklim, kebutuhan hidup
dan juga paling utama adalah kemauan untuk melayani.
3. Selama pekabaran injil di Timor ada sekolah-sekolah
dan gereja yang dibangun.
3.2 USUL/SARAN
1. Kami menghimbau kepada gereja, khususnya
gereja-gereja GMIT agar dalam katekisasi diadakan ajaran mengenai sejarah GMIT
kepada warga jemaat agar mereka dapat mengetahui bagaimana sejarahnya dan betapa
kerasnya perjuangan para zendeling dalam menyebarkan injil.
2. Kepada gereja juga kami menghimbau agar
diadakan satu pelatihan ketrampilan dan juga pengajaran yang ketat dan
terkontrol agar dapat membangun mereka untuk
melayani supaya jangan hanya orang-orang yang sama yang terus melayani dalam
gereja sebagai penatua/diaken.
3. Ketika kita berpegang teguh pada komitmen
maka Tuhan selalu menyertai kita. Oleh karena itu ketika di tugaskan untuk
melakukan apa saja maka setialah dan lakukan itu bukan untuk menyenangkan
manusia tetapi untuk kemuliaan nama Tuhan.
DAFTAR
PUSTAKA
Sumber Buku :
1.
Alkitab,
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)
2.
Dr.Djara Wellem, Frederiek. 2011. Sejarah Gereja Masehi Injili di Timor.
Permata Aksara : Jakarta
3.
End, Dr. Th. van den. 2001. Ragi Carita 2. PT BPK
Gunung Mulia: Jakarta.
4.
Hawu
Haba,Yuda.D. Bahan
Ajar Sejarah Gereja di Indonesia.
5.
Buku
Catatan Katekisasi Elisabeth Agnes Tnunay
Mengenai “Sejarah GMIT”
Sumber
Internet :
[1] End, Dr. Th. van den. 2001. Ragi Carita 2. PT BPK Gunung Mulia,
Jakarta. Halaman 104 - 105
[2] End, Dr. Th. van den. 2001. Ragi Carita 2. PT BPK Gunung Mulia,
Jakarta. Halaman 27
[3] Buku Catatan
Katekisasi Elisabeth Agnes Tnunay Mengenai
“Sejarah GMIT”
[5] Buku Catatan
Katekisasi Mengenai “Sejarah
GMIT”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar